KETERAMPILAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN

PEMBAHASAN

A. PENDAHULUAN

Setiap Lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dituntut memiliki kemampuan dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik atau guru. Sebagian orang mengatakan bahwa setiap lulusan perguruan tinggi pasti dapat mengajar. Tetapi pada kenyataannya tidak semua lulusan perguruan tinggi dapat mengajar dengan baik. Oleh karena itu sebelum praktik pembelajaran di sekolah atau lembaga, mental mahasiswa perlu disiapkan. Persiapan mental ini berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar- mengajar, baik persiapan, pelaksanaan, evaluasi maupun tindak lanjut kegiatan belajar mengajar agar persiapan pembentukan pribadi calon Guru tersebut semakin mantap maka diberlakukannya pengajaran mikro yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai keadaan kels yang sesungguhnya, sehingga mahasiswa mempunyai kesiapan yang memadai dan tidak akan menemui kesulitan ketika praktik pembelajaran di kelas yang sesungguhnya.

Pengajaran mikro merupakan wahana untuk melatih dan mempraktekkan keterampilan mengajar mahasiswa sehingga berbagai kekurangan dan kesulitan yang dihadapi mahasiswa akan terlihat ketika melakukan Pengajaran Mikro. Dan mahasiswa dapat memperbaiki baik melalui kritikan dari teman mahasiswa maupun dari Pembibing Mikro. Untuk menjadi guru yang baik mahasiswa harus memiliki beberapa keterampilan mengajar diantaranya adalah keterampilan dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran seorang guru harus mampu menggunakan media sebagai sarana untuk menyampaikan bahan ajarnya. Oleh karena itu kami disini akan membahas tentang keterampilan menggunakan media pembelajaran karena media pembelajaran merupakan sarana penting yang harus ada dalam proses pembelajaran, agar kegiatan di dalam kelas dapat terlaksana dengan baik dan proses pembelajaran dapat tepat sasaran dengan tujuan yang ada dalam pedoman seorang guru seperti Silabus dan RPP.

B. MATERI

1. Peran Media Dalam Komunikasi Dan Pembelajaran

Media adalah kata jamak dari medium, yang artinya perantara. Dalam proses komunikasi media merupakan satu dari empat komponen yang harus ada. Komponen yang lain, yaitu; sumber informasi, informasi,dan penerima informasi.

2. Media Dalam Pembelajaran

Menurut Schramm (1977), Media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Briggs (1977) mendefinisikan media pembelajaran sebagai sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran. Sedang menurut Arief S. Sadiman (1986), media pembelajaran adalah segala sesuatau yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa, dan dengan demikian terjadilah proses belajar.

3. Manfaat Media Pembelajaran

Secara umum manfaat media dalam pembelajaran adalah memperlancar interaksi guru dan siswa, dengan maksud untuk membantu siswa belajar secara optimal. Namun demikian, secara khusus manfaat media pembelajaran seperti dikemukakan oleh Kemp dan Dayton (1985) yaitu:

a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan

b. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik

c. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif

d. Jumlah waktu belajar-mengajar dapat dikurangi

e. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan

f. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan kapan saja

g. Sikap positif siswa terhadap proses belajar dapat ditingkatkan

h. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif.

 

4. Klasifikasi Media Pembelajan

a. Taksonomi Media Pembelajaran

Proses belajar –mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan, melalui saluran atau perantara tertentu, ke penerima pesan. Di dalam proses belajar –mengajar, pesan tersebut berupa materi ajar yang disampaikan oleh dosen/ guru, sedangkan saluran atau perantara yang digunakan untuk menyampaikan pesan/materi ajar adalah media pembelajaran atau disebut juga sebagai media instruksional. Fungsi media pembelajaran dalam proses belajar- mengajar adalah untuk:

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera

3) Menghilangkan sikap pasif pada subyek belajar

4) Membangkitkan motivasi pada subjek belajar.

b. Taksonomi Menurut Rudy Bretz Bretz (1972) mengidentifikasikan ciri utama media menjadi tiga unsur, yaitu: suara, visual, dan gerak. Media visual sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu: gambar, garis, dan symbol. Bretz juga membedakan antara media siar (telecommunication) dan media rekam (recording). Jika dirangkum maka diperoleh delapan klasifikasi media, yaitu: media audio visual gerak, media audio visual diam, media visual gerak, media visual diam, media semi gerak, media audio, dan media cetak.

c. Hirarki Media Menurut Duncan Duncan menyusun taksonomi media menurut hierarki pemanfaatannya untuk pendidikan. Dalam hal ini hierarki disusun menurut tingkat kerumitan perangkat media. Semakin tinggi satuan biaya, semakin umum sifat penggunaannya. Namun sebaliknya, semakin mudah dan luwes penggunaannya, maka semakin luas lingkup sasarannya.

d. Taksonomi Media Menurut Briggs Taksonomi media oleh Briggs lebih mengarah kepada karakteristik siswa, tugas instruksional, bahan dan transmisinya.

e. Taksonomi Media Menurut Gagne Gagne membagi media menjadi tujuh macam pengelompokan media yang dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut tingkat hierarki belajar yang dikembangkan. Pengelompokan tersebut meliputi benda untuk didemonstrasikan,komunikasi lisan, media cetak,gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media tersebut kemudian dikaitkan dengan kemampuannya untuk memenuhi fungsi menurut tingkat hierarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berfikir, memasuk-alihkan ilmu,menilai prestasi, dan memberi umpan balik.

f. Taksonomi media Menurut Edling Menurut Edling, media merupakan bagian dari unsur-unsur rangsangan belajar. Unsur-unsur tersebut yaitu dua unsur untuk pengalaman visual yang meliputi kondifikasi subjek audio dan kondifikasi objek visual,dua unsur pengalaman belajar tiga dimensi yang meliputi pengalaman langsung dengan orang, dan pengalaman langsung dengan benda-benda.

 

5. Jenis Dan Karakteristik Media Pembelajaran Sesuai dengan

klasifikasinya, maka setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik tersebut dapat dilihat menurut kemampuan media pembelajaran untuk membangkitkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, maupun pembauan/penciuman. Dalam rangka memilih suatu media pembelajaran yang akan digunakan oleh seorang guru pada saat melakukan proses belajar-mengajar, karakteristik tersebut dapat disesuaikan dengan suatu situasi tertentu. Berdasarkan tujuan praktis yang akan dicapai, media pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

a. Media Grafis

Media grafis adalah suatu jenis media yang menuangkan pesan dalam bentuk simbol-simbol komunikasi verbal.

b. Media Audio

media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang disapaikan melalui media audio dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun 4 non verbal.beberapa media yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok media audio antara lain radio dan alat perekam pita magnetic,alat perekam pita suara.

c. Media Projeksi

Media projeksi diam memiliki persamaan dengan media grafis, dalam arti dapat menyajikan rangsangan-rangsangan visual.

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam menentukan media pembelajaran yang akan dipakai dalam proses belajar-mengajar, mula-mula seorang guru harus mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada, serta memahami kemampuan dan karakteristik media yang akan dipilihnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan media adalah:

a. tujuan instruksional yang ingin dicapai

b. karakteristik siswa

c. jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio atau visual),keadaan latar atau lingkungan, dan gerak atau diam d. ketersediaan sumber setempat

e. apakah media siap pakai ataukah media rancang

f. kepraktisan dan ketahanan media g. efektivitas biaya dalam jangka panjang

 

7. Media Pembelajaran Dua Dimensi Non Projeksi Media dua dimensi non

projeksi adalah media yang mempunyai dimensi panjang dan lebar saja, yang penggunaannya tidak memerlukan bantuan perangkat projeksi. Macam-macam media dua dimensi non projeksi yaitu : papan tulis, papan putih magnetis, papan putih elektronik, papan flannel,alat lebar gantungan(ALG),alat lebar sampiran (ALS),poster,handout,dan visualisasi data.

8. Strategi Pemanfaatan

Supaya media dapat digunakan secara efektif dan efisien ada tiga langkah utama yang perlu diikuti dalam menggunakan media yaitu:

1. Persiapan Sebelum Menggunakan Media

Supaya penggunaan media dapat berjalan dengan baik, kita perlu membuat persiapan yang baik pula.pertama-tama pelajari buku petunjuk yang telah disediakan.kemudian kita ikuti petunjuk-petunjuk itu. Apabila pada petunjuk kita disarankan untuk membaca buku atau bahan belajar lainyang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai,seyogyanya hal tersebut dilakukan. Hal tersebut akan memudahkan kita dalam belajar dengan media itu.peralatan yang diperlukan untuk menggunakan media itu juga perlu dipersiapkan sebelumnya. Dengan demikian, pada saat menggunakannya nanti, kita tidak akan diganggu dengan hal-hal yang mengurangi kelancaran penggunaan media itu.jika media itu digunakan secara berkelompok,sebaiknya tujuan yang akan dicapai dibicarakan terlebih dahulu dengan semua anggota kelompok. Hal ini penting supaya perhatian dan pikiran terarah ke hal yang sama.

2. Kegiatan Selama Menggunakan Media

Yang perlu dijaga selama kita menggunakan media adalah suasana ketenangan. Gangguan-gangguan yang dapat menggangu perhatian dan konsentrasi harus dihindarkan. Kalau mungkin, ruangan jangan digelapkan sama sekali. Hal itu supaya kita masih dapat menulis jika menjumpai hal-hal penting yang perlu diingat. Kita pun dapat menulis pertanyaan jika ada bagian yang tidak jelas atu sulit dipahami.

3. Kegiatan Tindak Lanjut

Kegiatan tindak lanjut ialah untuk menjajagi apakah tujuan telah tercapai. Selain itu, untuk memantapkan pemahaman terhadap materi instruksional yang disampaikan melalui media bersangkutan. Untuk itu soal tes yang disediakan perlu kita kerjakan dengan segera sebelum kita lupa isi program media itu.

9. Pola Pemanfaatan Media Pembelajaran

Ada beberapa pola pemanfaatan media pembelajaran. Berikut ini pola-pola pemanfaatan media pembelajaran yang dapat dilakukan. 1) Pemanfaatan media dalam situasi kelas (classroom setting) Dalam tatanan (setting) ini, media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu. Pemanfaatannya pun dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas. 2) Pemanfaatan Media di Luar Situasi Kelas Pemanfaatan media pembelajaran diluar situasi dapat dibedakan dalam dua kelompok utama: 1) Pemanfaatan Secara Bebas Pemanfaatan secara bebas ialah bahwa media itu digunakan tanpa dikontrol atau diawasi. Pembuat program media mendistribusikan program media itu dimasyarakat pemakai media, baik dengan cara diperjual belikan maupun didistribusikan secara bebas. Hal itu dilakukan dengan harapan media itu akan digunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Berikut ini contoh jenis pemanfaatan media antara lain: 1. Pemakaian kaset pelajaran bahasa inggris 2. Pemanfaatan program siaran radio pendidikan 2) Pemanfaatan Media Secara Terkontrol Pemanfaatan media secara terkontrol ialah bahwa media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila media itu berupa media pembelajaran, sasarn didik (audience) diorganisasikan dengan baik. Dengan begitu, mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan, dan mengikuti tujuh pola belajar-mengajar tertentu. Berikut ini contoh pemanfaatan program media secara terkontrol. 1. Pemanfaatan siaran radio pendidikan untuk penataran guru 2. Pemanfaatan media unntuk mencapai ijazah persamaan SMA di AS 7 3) Pemanfaatan Media Secara Perorangan, Kelompok atau Massal 1. Media dapat digunakan secara perorangan. Artinya, media itu digunakan oleh orang saja. Banyak media yang memang dirancang untuk digunakan secara perorangan. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan yang jelas sehingga orang dapat menggunakannnya dengan mandiri. 2. Media dapat digunakan secara berkelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok kecil atau berupa kelompok besar. Media yang dirancang untuk digunakan secara berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petunjuk ini biasanya ditujukan kepada pimpinan kelompok, tutor atau guru. Keuntungan belajar menggunakan media secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat melakukan diskusi tentang bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapat dilakukan, baik sebelum, maupun sesudah mereka menggunakan media itu. Media yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa persyaratan. a) Suara yang disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok dapat mendengarnya. b) Gambar atau tulisan dalam media iu harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anggota kelompok itu. c) Perlu ada alat penyaji yang dapat memperkeras suara (amplifer) dan membesarkan gambar (proyektor). 3. Media dapat juga digunakan secara massal. Media yang seperti ini biasanya disiarkan melalui pemancar, seperti radio, televise, atau digunakan dalam ruang yang besar. Untuk memudahkan orang belajar dengan menggunakan media seperti ini sebaiknya kepada para peserta diberikan bahan tercetak sebelumnya. Bahan cetakan itu setidak-tidaknya harus memuat tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan sumber lain yang dapat dipelajari untuk memperdalam pemahaman. Bahan cetakan ini diberikan jauh sebelum saat penggunaan media dilakukan. Dengan demikian para peserta dapat menyiapkan diri dalam mengikuti program media itu. 8 LEMBAR OBSERVASI FORMAT OBSERVASI PEMBELAJARAN DI KELAS DAN OBSERVASI PESERTA DIDIK NAMA MAHASISWA :………… PUKUL :…………….. NO. MAHASISWA :………… TEMPAT PRAKTIK :……………… TGL. OBSERVASI :………… FAK/JUR/PRODI :…………….. NO ASPEK YANG DIAMATI DESKRIPSI HASIL PENGAMATAN A. Perangkat Pembelajaran 1. Silabus 2. Satuan Pelajaran (SP) 3. Rencana Pembelajaran (RP) B. Proses Pembelajaran 1. Membuka pelajaran 2. Penyajian materi 3. Metode pembelajaran 4. Penggunaan bahasa 5. Penggunaan waktu 6. Gerak 7. Cara memotivasi siswa 8. Teknik bertanya 9. Teknik penguasaan kelas 10. Penggunaan media 11. Bentuk dan cara evaluasi 12. Menutup pelajaran C. Perilaku Siswa 1. Perilaku siswa di dalam kelas 2. Perilaku siswa di luar kelas Pringsewu,………….. Guru Pembimbing Pengamat, _______________ ________________ NIP. NIM. 9 PENUTUP Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber pembelajaran. Ada dua unsur yang terkandung di dalam media pembelajaran, yaitu: pesan atau bahan/materi pembelajaran yang akan disampaikan, atau disebut perangkat lunak (software) dan alat penampil atau perangkat keras (hardware). Sesuai dengan klasifikasinya media pembelajaran mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, berdasarkan tujuan praktis yang akan dicapai media pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu media grafis,media audio, dan media projeksi.secara umum manfaat media dalam pembelajaran adalah memperlancar interaksi guru dan siswa dengan maksud untuk membantu siswa belajar secara optimal. Sedangkan secara khusus manfaat media pembelajaran adalah penyampain meteri pembelajaran dapat diseragamkan,proses pembelajaran akan menjadi lebih menarik, interaktif, dan kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan serta peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif. Dengan adanya media proses pembelajaran yang dilakukan akan lebih efisien,tetapi juga membantu siswa menyerap materi ajar secara lebih mendalam dan utuh. DAFTAR PUSTAKA Sadiman Arief,Dkk.1984.Media Pendidikan.Rajagrahafindo Persada:Jakarta Suwarna, Dkk.2006. Pengajaran Mikro. Tiara Wacana : Yogyakarta

KETERAMPILAN DASAR BERTANYA

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PENDAHULUAN

Salah satu tugas pokok guru adalah mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan profesional yang memerlukan keahlian khusus yang ditempuh melalui pendidikan dan pengalaman. Karena itu tidak semua orang “dapat menjadi guru” yang baik. Guru tidak dilahirkan melainkan dibentuk terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara profesional guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan mengajar secara teori maupun praktik. Guru harus mempunyai kompetensi profesional dalam mengajar. Mengajar selalu berlangsung dalam suatu proses pembelajaran yang aktual yang memerlukan seni dalam penanganannya. Disamping memiliki keterampilan mengajar ketrampilan ini juga memerlkan latihan secara spesifik dalam bentuk micro teaching. Micro teaching merupakan syarat mutlak bagi calon guru untk mendapatkan pengalaman-pengalaman berdiri didepan kelas dan melatih kemampuan bertindak sebagai administrator pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Pembelajaran micro bagi setiap calon guru sebagai bekal persiapan menghadapi praktik lapangan. Kegiatan micro teaching ditujukan kepada calon guru agar dilatih untuk menunjukkan keaktifan dan kemampuannya sebagai calon seorang guru. Kemampuan yang dilatihkan bagi setiap calon guru adalah keterampilan dasar mengajar yang meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, bertanya, memberi pengutan, mengadakan variasi, membimbing diskusi kelompok kecil dan perorangan, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan mengaktifkan belajar siswa.

Dari beberapa keterampilan dasar mengajar, salah satu keterampilan yang tidak bisa dianggap mudah adalah ketrampilan menjelaskan dan keterampilan bertanya. Dalam kegiatan pembelajaran, pembicaraan guru yang dianggap berpengaruh langsung terhadap siswa sering mendominasi kelas. Sebagian dari pembicaraan guru termasuk ke dalam kegiatan menjelaskan dan kegiatan bertanya. Salah satu tujuan kegiatan menjelaskan adalah untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berfikir yang lebih sisematis, sedangkan  kegiatan bertanya bertujuan untuk memperoleh informasi dan meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa. Dengan demikian pertanyaan, pertanyaan yang diajukan guru tidak semata-mata bertujuan mendapatkan informasi tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mendorong para siswa agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dan melalui kegiatan micro teaching ini diharapkan calon guru dapat menguasai dan terampil dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar di lapangan.

  1. B.     MATERI

 

  1. 1.    KETERAMPILAN BERTANYA

1.1     PENGERTIAN

Keterampilan bertanya menurut Tim LP3I (2010:99) adalah suatu pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pengajarannya melibatkan/menggunakan tanya jawab. Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan jawaban atau balikan dari orang lain.

Mengajukan pertanyaan dengan baik adalah mengajar yang baik. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang terkenal. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal seperti stimulasi efektif yang mendorong kemampuan berpikir,antara lain:

  1. Merangsang kemampuan berpikir siswa.
  2. Membantu siswa dalam belajar.
  3. Mengarahkan siswa pada tingkat interaksi beljar mandiri.
  4. Meningkatkan kemampuan berpikir siswa dari kemampuan berpikir tingakat rendah ke tingkat yang lebih tinggi.
  5. Membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang dirumuskan.

 

  1. A.    Dasar-Dasar Pertanyaan yang Baik
    1. Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
    2. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
    3. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
    4. Berikan waktu yang cukup kapada anak untuk berpikir  sebelum menjawab pertanyaan.
    5. Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
    6. Berikan respons yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siswa untuk menjawab atau bertanya.
    7. Tuntunlah jawaban sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
  1. B.     Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
    1. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat

Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.

  1. Pemberian acuan

Sebelum memberikanpertanyaan, guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang dihrapkan dari siswa.

  1. Pemindahan giliran

Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa karena jawaban siswa benar atau belum memadai.

  1. Penyebaran

Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak agar semua siswa mendapat giliran secara merata.

  1. Pemberian waktu berpikir

Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu beberapa detik untuk berpikir sebelum menunjuk salah seorang siswa menjawabnya

  1. Pemberian tuntunan

Bila siswa itu menjawab salah atau tidak dapat menjawab, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

  1. 7.      Teknik menggali ( probing question)

Probing question adalah pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban lebih lanjut dari murid guna mengembangkan kualitas jawaban yang pertama, sehingga yang berikutnya lebih jelas, akurat, serta lebih beralasan.

  1. 8.      Pemusatan (Focussing)

Teknik ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang ruang lingkupnya luas, kemudian dilanjutkan ke pertanyaan yang lebih khusus.

  1. C.    Latihan Penerapan Keterampilan Bertanya Dasar
    1. Dalam pengajaran mikro

Siapkan satu pengajaran yang banyak menggunakan interaksi verbal antara anda dengan yang anda anggap siswa. Buatlah beberapa pertanyaan yang akan anda ajukan selama pengajaran berlangsung.

  1. Dalam praktik pengalaman lapangan

Amatilah pola penyebaran pertanyaan oleh guru pamong anda. Apakah faktor-faktor penting yang mempengaruhinya? Bila perhatian guru tidak tersebar, bagaimana mengatasinya?

Gunakan lembar observasi dan diskusikan hasilnya.

  1. Penerapan keterampilan bertanya lanjut dalam praktik pengalaman lapangan.
    1. Pada waktu anda melaksanakan PPL di SD latihan, sebaiknya amati terlebih dahulu cara dan jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru pamong, kemudian catatlah hal-hal berikut:

1)      Pola urutan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru pamong dikelasnya. Apakah pertanyaan yang umum diikuti dengan pertanyaan pelacak?

2)      Pertanyaan-pertanyaan yang anda anggap merupakan usaha guru pamong untuk meningkatkan daya nalar siswa.

3)      Apakah guru menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak?

4)      Apakah guru cukup memberikan waktu berpikir kepada siswa untuk menjawab pertanyaan?

  1. Gunakan hasil catatan itu pada waktu anda mendapat tugas praktik di TK atau SD latihan.
  1. D.    Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya Lanjutan

Adapun komponen-komponennya adalah sebagai berikut:

  1. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif pertanyaan.

Pertanyaan yang dikemukakan guru dapat mengandung proses mental yang berbeda-beda, dari proses mental yang rendah sampai proses mental yang tinggi. Oleh karena itu, guru dalam mengajukan pertanyaan hendaknya berusaha mengubah tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan dari tingkat mengikat kembali  fakta-fakta ke berbagai tingkat kognitif lainnya yang lebih tinggi seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

  1. Pengaturan urutan pertanyaan.

Guru dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada siswa dari tingkat mengikat, kemudian pertanyaan pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

  1. Penggunaan pertanyaan melacak.

Jika jawaban yang diberikan oleh siswa dinilai benar oleh guru, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut.

  1. Peningkatan terjadinya interaksi.

Jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab, tetapi melontarkannya kembali kepada siswa lainnya.

  1. E.     Teknik dasar bertanya dilakukan dalam proses pembelajaran antara lain:
    1. Pertanyaan yang diajukan harus jelas dan langsung diajukan kepada semua peserta didik, dan berikan waktu secukupnya untuk berpikir menjawabnya.
    2. Mencegah jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaa.
    3. Mempersilahkan peserta didik untuk menjawab.

1.2  JENIS-JENIS PERTANYAAN

Jenis-Jenis Pertanyaan Menurut Maksudnya

  1. Pertanyaan Permintaan (Compliance Question)

Pertanyaan permintaan adalah pertanyaan yang mengharapkan agar murid mematuhi perintah yang diucapkan dalam  bentuk pertanyaan.

  1. Pertanyaan Retoris (Rhetorical Question)

Pertanyaan retoris yaitu pertanyaan yang tidak menghendakijawaban, melainkan akan dijawab sendiri oleh guru.

  1. Pertanyaan  mengarahkan/ menuntun (Prompting Question)

Pertanyaan mengarahkan/menuntun adalah pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada murid dalam proses berpikirnya.

  1. Pertanyaan menggali (Probing Question)

Pertanyaan menggali adalah pertanyaan lanjut yang akan mendorong murid untuk lebih mendalami jawabannya terhadap pertanyaan sebelumnya.

Jenis-jenis  Pertanyaan Menurut Teksonomi Bloom

  1. Pertanyaan Pengetahuan ( Precal l Question atau Legde Question)

Pertanyaan pengetahuan ialah pertanyaan yang hanya mengharapkan jawaban yang sifatnya hafalan atau ingatan terhadap apa yang telah dipelajari murid, dalam hal ini murid tidak di minta pendapatnya atau penilaiannya terhadap suatu problema atau persoalan.

 

  1. Pertanyaan Pemahaman (Comprehension Question)

Pertanyaan ini menuntut murid untuk menjawab pertanyaan dengan jalan mengorganisir informasi-informasi yang pernah diterimanya dengan kata-kata sendiri, atau membaca informasi yang dilukiskan melalui grafik atau kurva.

  1. Pertanyaan Penerapan ( Aplication Question )

Pertanyaan penerapan ialah pertanyaan yang menuntut  murid untuk memberikan jawaban tunggal dengan cara menerapkan: pengetahuan, informasi, aturan-aturan, kriteria dan kejadian yang sesungguhnya.

 

  1. Pertanyaan Analisis ( Analysis Question)

Pertanyaan analisis ialah pertanyaan yang menuntut murid untuk menemukan jawaban dengan cara mengidentifikasi, mencari bukti-bukti , dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi-informasi yang ada.

  1. Pertanyaan sintesis (Synthesis Question)

Ciri dari pertanyaan ini ialah jawabannya yang benar tidak tunggal melainkan lebih  dari satu dan menghendaki murid untuk mengembangkan potensi serta daya kreasinya

  1. Pertanyaan evaluasi (Evaluation Question)

Pertanyaan ini menghendaki murid untuk menjawabnya dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu issu yang ditampilkan.

Jenis-jenis Pertanyaan Menurut Luas Sempitnya Sasaran

  1. Pertanyaan sempit (Narrow Question)

Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tertutup (convergent) yang biasanya kunci jawabannya telah tersedia.

  1. Pertanyaan luas ( Broad Question)

Ciri pertanyaan ini adalah jawabannya mungkin lebih dari satu, sebab pertanyaan ini belum mempunyai jawaban yang spesifik, sehingga masih diharapkan yang terbuka.

 

  1. Pertanyaan luas menilai (valuing qustion)

Pertanyaan ini meminta untuk mengadakan penilaian terhadap aspek kognitif maupun sikap.

  1. 2.     KETERAMPILAN MENJELASKAN      

2.1  PENGERTIAN

Kegiatan menjelaskan merupakan aktivitas mengajar yang tidak dapat dihindari oleh guru. Penjelasan diperlukan karena tidak terdapat dalam buku, guru harus menuturkan secara lisan.untuk menyampaikan bahan pelajaran yang berkaitan dengan hubungan antar konsep, guru perlu menjelaskan secara runtut dan runut.

Menurut Tim LP3I (2010:78) kegiatan menjelaskan adalah menuturkan secara lisan mengenai sesuatu bahan pelajaran, maka keterampilan secara sistematis dan terencana sehingga memudahkan siswa untuk memahami bahan pelajaran. Sedangkan menurut Usman (2005:88-89) keterampilan menjelaskan adalah penyajian secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.

Ditinjau dari isi yang disampaikan oleh guru kepada siswa, makna penjelasan dapat dibedakan antara lain :

  1. Menyampaikan Informasi

Diartikan sebagai pemberitahuan, menyatakan bahwa “ ini adalah begini” meceritakan, menyampaikan fakta, memberi instruksi. Dengan demikian menyampaikan berarti memberitahukan, menceritakan, dan atau memberi intruksi tentang bahan pelajaran, sehingga siswa setelah diberitahu atau diberi informasi mengenai isi bahan pelajaran kemudian diminta untuk menerima dan mengingatnya.

  1. Menerangkan

Isi yang disampaikan menunjukkan “apa” atau “bagaimana” sesungguhnya sesuatu itu. Jadi dalam hal ini isi bersifat pengertian atau istilah. Karena itu menerangkan berarti menunjukkan “apa dan bagaimana” isi bahan/materi pelajaran itu sehingga orientasi penekanannya adalah menerangkan bahan pelajaran untuk diterima dan dimengerti oleh siswa.

  1. Menjelaskan

Isi yang disampaikan mennjukkan “mengapa” atau “untuk apa” sesuatu terjadi demikian, menunjukkan “hubungan” antara dua hal atau lebih. Menjelaskan adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan maksud untuk menyampaikan, menerangkan, dan menguraikan, secara rinci tentang suatu materi sehingga siswa dapat memahami bukan sekedar mengetahui.

  1. Memberi motivasi

Diartikan memberi dorongan, menimbulkan mnat, perhatian dan kemauan siswa. Biasanya guru harus juga menunjukkan mengapa bahan pelajarn ini perlu dipelajari, apa gunanya,untuk apa diketahui.

  1. Mengajukan pendapat pribadi.

Mengenai suatu kejadian/peristiwa/keadaan, guru dapat mengajukan pandangan pribadinya. Sebaiknya dengan didahului kata-kata “menurut saya sendiri” dan disertai alasan-alasan fakta atau data yang mendukung pendapatnya itu. Karena pendapat tersebut bersifat subyektif berarti siswa harus diberi kebebasab untuk mengajukan pendapat pula yang mungkin tidak sama dengan guru.

2.2        Tujuan Keterampilan Menjelaskan

Menurut Tim LP3I tujuan penggunaan penjelasan dalam proses belajar mengajar antara lain :

  1. Untuk membimbing pikiran peserta didik dalam pemaham terhadap konsep, prinsip, dalil, atau hukum-hukum yang menjadi bahan pelajaran.
  2. Untuk memperkuat struktur kognitif esrta didik yang berhubungan dengan bahan pelajaran
  3. Membantu peserta didik dalam memecahkan masalah
  4. Membantu memudahkan peserta didik dalam mengasimilasi dan mengakomodasikan konsep
  5. Mengkomunikasikan ide, gagasan (pesan) kepada peserta didik
  6. Melatih peserta didik mandiri dalam mengambil keputusan
  7. Melatih pesrta didik berfikir logis apabila penjelasan guru kurang    sistematis.

2.3        Alasan Perlunya Keterampilan Menjelaskan Dikuasai Oleh Guru

Memberikan penjelasan merupakan salah satu aspek yang penting dalam perbuatan guru, karena itu ada beberapa alasan mengapa keterampilan dalam menjelaskan perlu dikuasai, antara lain :

  1. Pada umumnya interaksi komunikasi lisan di dalam kelas didominasi oleh guru.
  2. Sebagian besar kegiatan guru adalah informasi. Untuk itu efektivitas pembicaraan perlu ditingkatkan
  3. Menjelaskan yang diberikan guru dan yang ada dalam buku sering kurang dipahami oleh peserta didik. karena tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau sumber lainnya
  4. Informasi yang diperoleh peserta didik agak terbatas. Kurangnya sunber yang tersedia yang dapat dimanfaatkan oleh murid dalam belajar.

2.4        Perencanaan dan Pelaksanaan Keterampilan Menjelaskan

Untuk dapat menjelaskan sesuatu dengan jelas maka dituntut penguasaan materi yang mantap, kemampuan menganalisis pokok persoalan yang akan dibahas, serta perencanaan yang matang dan bagaimana langkah-lagkahnya untuk menjelaskan materi tertentu kepada orang lain, maka dari itu keterampilan menjelaskan meliputi dua segi yaitu :

  1. Perencanaan

Penjelasan yang diberikan oleh guru perlu direncanakan dengan baik, dalam merencanakan suatu penjelasan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu yang berkenaan dengan isi pesan (penjelasan) dan penerimaan pesan. Dalam merencanakan isi penjelasan yang akan disampaikan guru perlu mengadakan:

  1. Analisis pengertian yang akan diterangkan

Menerangkan suatu pengertian dimaksud untuk menguraikan jawaban atas pertanyaan apa atau bagaimana sesungguhnya sesuatu itu.

  1. Analisis pokok persoalan yang hendak dijelaskan

Menjelaskan sesuatu dimaksudkan untuk menguraikan jawaban atas pertanyaan mengapa dan untuk apa sesuatu itu terjadi demikian, tidak hanya itu dengan menunjukkan hubungan antara dua pengertian atau lebih sehingga menjadi jelas bagaimana dua hal atau lebih berkaitan satu sama lain.

Sedangkan pada tahap penerima pesan , penjelasan yang diberikan oleh guru dapat dikatakan berhasil bila menimbulkan pengertian dalam diri siswa. Penjelasan yang tidak dimengerti siswa berarti gagal sebagai penerimaan. Oleh karena itu dalam merencanakan atau mempersiapkan suatu penjelasan harus dipertimbangkan baik-baik kepada siapa penjelasan itu akan disampaikan. Sebeb berhasil atau tidaknya penjelasan seorang guru sangat tergantung dari kesiapan siswa untuk menerimanya.

  1. Pelaksanaan

Setelah merencanakan penjelasan yang baik maka pelaksanaan penyajian diharapkan baik pula, sehingga mudah dimengerti oleh para siswa. Mutu pelaksanaan dapat ditingkatkan dengan komponen-komponen ketrampilan menjelaskan berikut ini :

  1. Orientasi

Dengan memberi orientasi atau pengarahan dimaksudkan untuk mengantar siswa pada pokok persoalan yang akan dibahas dan menempatkan penjelasan yang akan disampaikan dalam suatu kerangka yang lebih luas.

  1. Bahasa yang sederhana

Kejelasan suatu penjelasan dapat ditingkatkan dan didukung dengan penggunaan bahasa yang baik. Hal ini dapat menyangkut segi-segi diantaranya bahasa yang diucapkan hendaknya jelas kata-katanya, kalimat hendaknya sederhana dan pendek, apabila terdapat istilah asing hendaknya segera dijelaskan, hindari ungkapan yang kabur, menggunakan waktu diam sejenak sebelum mengutarakan hal yang penting.

  1. Penggunaan contoh dan ilustrasi

Pemahaman siswa terhadap prinsip/dalil/hukum dapat ditingkatkan dengan menghubungkannya pada kejadian sehari-hari atau kegiatan yang sering dijumpai siswa. Berarti guru harus memberikan contoh-contoh yang nyata, konkrit, jelas, sesuai daya tangkap dan lingkungan siswa.

  1. Pemberian tekanan atau memberikan penjelasan yang paling penting

Agar penjelasan guru mudah ditangkap siswa, hendaknya tata susunan atau urutan langkah-langkah ditunjuk dengan jelas, sehingga siswa dapat dengan mudah membedakan mana yang pokok, mana yang bukan, berarti bahwa guru harus menekankan pada hal-hal yang pokok-pokok.

  1. Variasi dalam penyajian

Bila penjelasan yang berisikan uraian kemungkinan besar minat siswa terhadap pelajaran akan berkurang. Oleh karena itu guru harus pandai memikat perhatian siswa. Keterampilan menjelaskan tidak berarti guru terlalu serius sepanjang jam pelajaran, perlu juga diselingi informasi lain yang ringan dan lucu. Semakin pelajaran yang diberikan kurang menguntngkan semakin perlu guru mengadakan variasi, baik dalam cara menyampaikan materi pelajaran maupun dalam metode dan proses interaksi.

  1. Penggunaan balikan, mengajukan pertanyaan kepada peserta didik tentang materi yang belum dipahami.

Dalam menyajikan penjelasan, guru hendaknya tidak hanya bicara sendiri, melainkan juga memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pengertiannya atau ketidakmengertiannya. Lebih baik mengajukan pertanyaaan konkrit kepada siswa mengenai hal yang baru dijelaskan atau memancing pertanyaan dari siswa.

2.5  Prinsip-Prinsip Keterampilan Menjelaskan

Langkah-langkah dalam menjelaskan menurut Wardani dalam Zainal (2010:85)mengemukakan bahwa prinsip-prinsip penjelasan perlu dipahami antara lain :

  1. Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir pembelajaran.
  2. Penjelasan harus relevan dengan tujuan.
  3. Guru dapat memberi penjelasan bila ada pertanyaan siswa atau dirancang guru sebelumnya penjelasan itu materinya harus bermakna bagi siswa
  4. Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan siswa.

2.6  Latihan Penerapan dalam Pengajaran Mikro

Sajikan penjelasan selama 10 menit dan gunakan lembar observasi keterampilan menjelaskan sebagai pedoman.

2.7 Latihan Penerapan dalam PPL

  1. Sajikanlah pelajaran yang sama pada dua kelas yang homogen.
  2. Mintalah teman sejawat untuk mengamati salah satu pelajaran yang anda sajikan dengan menggunakan lembar observasi keterampilan menjelaskan dan diskusikan hasilnya.
  3. Amatilah beberapa pelajaran yang memuat penjelasan yang diberikan oleh guru pamong dengan menggunakan lembar observasi ketrampilan.

LEMBAR OBSERVASI

KETRAMPILAN BERTANYA DASAR

Nama Calon : ………………….
Hari/Tanggal : ………………….
Bidang studi : ………………….
Sekolah : ………………….
Pokok Bahasa : ………………….
Kelas : ………………….

No

Komponen Ketrampilan

Frekuensi

Komentar

1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat

 2.Pemberian acuan

 3.Pemusatan

 4.Pemindahan gilir

 5.Penyebaran :

  • ke seluruh siswa
  • respon siswa

  6.Pemberian waktu berfikir

   7.Pemberian tuntutan :

  • pengungkapan pertanyaan dengan cara lain
  • pengungkapan penjelasan sebelumnya

  

Pengamat,

 

 

 

……………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KETRAMPILAN BERTANYA LANJUT

Nama Calon : ………………….
Hari/Tanggal : ………………….
Bidang studi : ………………….
Sekolah : ………………….
Pokok Bahasa : ………………….
Kelas : ………………….
No Komponen Ketrampilan Frekuensi Komentar
1. Pengubah tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan :

  • ingatan
  • pemahaman
  • aplikasi
  • analisis
  • sintesis
  • evaluasi
 
2. Urutan pertanyaan  
3. Pertanyaan pelacak

  • klasifikasi
  • pemberian alasan
  • kesepakatan
  • ketetapan
  • relevansi
  • contoh
  • jawaban kompleks
 
4. Mendorong terjadinya interaksi    

Pengamat,

 

……………..

KETRAMPILAN MENJELASKAN

Nama Calon : ………………….
Hari/Tanggal : ………………….
Bidang studi : ………………….
Sekolah : ………………….
Pokok Bahasa : ………………….
Kelas : ………………….

No

Komponen Ketrampilan

Ya

Tidak

1. Kejelasan :

  • menggunakan kalimat yang berbelit
  • menghindari kata yang berlebihan dan yang meragukan
 
2. Penggunaan contoh :

  • menggunakan contoh-contoh
  • contoh relevan dengan penjelasan
  • contoh sesuai dengan kemampuan anak
 
3. Pengorganisasian :

  • pola/stuktur sajian
  • memberikan ikhisar butir yang penting
 
4. Penekanan pada yang penting :

  • dengan suara
  • dengan cara mengulangi
  • dengan menggambar
  • dengan mimik
 
5. Balikan :Mengajukan pertanyaan    

Pengamat,

 

………….

C. PENUTUP

 

Berdasarkan  penjelasan di atas kami dapat menyimpulkan bahwa  salah satu tugas pokok guru adalah mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan profesional yang memerlukan keahlian khusus yang ditempuh melalui pendidikan dan pengalaman. Disamping memiliki keterampilan mengajar ketrampilan ini juga memerlkan latihan secara spesifik dalam bentuk micro teaching. keterampilan dasar mengajar, salah satu keterampilan yang tidak bisa dianggap mudah adalah ketrampilan menjelaskan dan keterampilan bertanya.

Keterampilan bertanya menurut Tim LP3I (2010:99) adalah suatu pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pengajarannya melibatkan/menggunakan tanya jawab.

Sedangkan menurut Usman (2005:88-89) keterampilan menjelaskan adalah penyajian secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, Menurut Tim LP3I tujuan penggunaan penjelasan dalam proses belajar mengajar antara lain :

  1. Untuk membimbing pikiran peserta didik dalam pemaham terhadap konsep, prinsip, dalil, atau hukum-hukum yang menjadi bahan pelajaran.
  2. Untuk memperkuat struktur kognitif esrta didik yang berhubungan dengan bahan pelajaran
  3. Membantu peserta didik dalam memecahkan masalah

DAFTAR PUSTAKA

Asril,Zainal.2010.Micro Teaching.Jakarta: Rajagrafindo Persada

Tim Laboratorium Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Islam(LP3I) .2010.Keterampilan Dasar Mengajar .Jogyakarta:Ar ruzz media

Usman,Uzer.2005.Menjadi Guru Profesional.Bandung:Remaja Rosdakarya

 

 

 

 

 

 

 

Keterampilan Mengadakan Variasi

  1. A.    PENDAHULUAN

 

 

Pembelajaran micro dapat diartikan sebagai cara latihan keterampilan keguruan atau praktik mengajar dalam lingkup kecil atau terbatas (Zainal Asril, 2010:43).

Menurut Suwarna,dkk,2005:20 pengajaran miro merupakan wahana untuk melatih dan mempraktikkan ketrampilan mengajar mahasiswa. Pengajaran micro juga merupakan wahana untuk membentuk ketrampilan mengajar karena berbagia kekurangan dan kesulitan yang di hadapi oleh mahasiswa akan terlihat ketika melakukan pelajaran micro.

Menurut Brown dalam Marno dan Idris (2008:68) untuk menghasilkan calon guru yang profisional Sebelum prktik belajar mengajar di sekolah  calon guru perlu di latih mengembangkan ketrampilan dasar mengajar dengan di berikan kesempatan mengembangkan gaya mengajarnya sendiri dan mengurangi atau menghilangkan kesalahan-kesalahan yang paling mencolok.

Dalam konteks yang sebenarnya mengajar mengandung banyak tindakan yang mencangkup ketrampilan-ketrampilan dasar mengajar. Ketrampilan dasar mengajar yang di perlukan sebagai calon guru tersebut mencakup ketrampilan membuka dan menutup pelajaran, ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan menggunakan media pmbelajaran ,ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, ketrampilan mengelola kelas,ketrampilan mengadakan variasi, ketrampilan mengajar perorangan dan kelopok kecil.

 

Mengingat kekomplekan perbutan mengajar, calon guru yang belum bisa mengajar akan mengalami kesulitan untuk secara serempak menerapkan semau komponen dlam perbuatan mengajar tersebut.

 

 

 

Oleh karena itu, dalam langkah penguasaan komponen perbuatan mengajar, calon guru perlu berlatih secara persial artinya setiap komponen perbuatan mengajar itu perlu dikuasai melalui latihan secara terpisah-pisah (isolated)

Salah satu ketrampilan dasar mengajar yang harus di kuasai oleh seorang guru atau pengajar adalah ketrampilan mengadakan variasi.

Seperti yang di kemukakan oleh Waskito dalam LP31 (2010:41) bahwa pengajaran micro adalah satu metode belajar mengajar atas dasar performence yang tekniknya adalah dengan jalan mengisolasikan komponen-komponen proses belajar mengajar, sehingga calon guru dapat menguasai setiap komponen satu-persatu dalam situasi yang disederhanakan atau dipekecilkan.

 

Salah satu komponen belajar mengajar adalah keterampilan-ketarmpila  dasar mengajar termasuk di dalamnya keterampilan mengadakan variasi yang berguna untuk mengatasi kejenuhan atau kebosanan yang dialami siswa dalam kegiatan atau proses pembelajaran dan juga untuk mengatasi kondisi ruangan yang tidak nyaman, performance guru kurang menyejukkan hati peserta didik serta materi yang diajarkan kurang menarik. Dengan memperbaiki gaya mengajar saja belum dapat mengatasi persoalan yang terjadi namun, dengan harapan bervariasinya proses pembelajaran yang diberikan akan membawa cakrawala kecerahan bagi para siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian keterampilan menggunakan variasi.

Dalam buku keterampilan dasar mengajar yang ditulis oleh LP31 (2010: 131). Keterampilan menggunakan variasi merupakan salah satu keterampilan mengajar yang harus dikuasai guru.

 

Menurut Soetomo(1993: 100) pemberian variasi dalam, interaksi belajar mengajar dapat diartikan sebagai perubahan penjajaran dari yang satu ke orang lain dengan tujuan menghilangkan kebosanan dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru, sehingga siswa dapat aktif lagi dan berpartisipasi dalam belajarnya.

 

Sedangkan menurut Hamid Darmadi (2010 : 3) menjelaskan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk mengacu dan mengingat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung.

 

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan menggunakan variasi adalah suatu keterampilan mengajar yang harus dikuasai guru dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan siswa dan kejenuhan  siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru serta untuk mengacu dan mengingat perhatian siswa sehingga siswa dapat aktif dan terpartisipasi dalam belajarnya.

 

 

 

 

 

 

  1. Tujuan Mengadakan Variasi

E. Mulyasa dalam Suwarna, dkk (2006 : 85) mengemukakan beberapa tujuan keterampilan dasar mengajar mengadakan variasi adalah :

a.       Menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek pembelajaran.

b.       Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajarar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.

c.       Meningkatkan kadar CBSA dalam proses belajar mengajar dengan melibatkan siswa dengan berbagai tingkat kognisi.

 

Menurut Marno dan Idris (2008 : 160) menyebutkan lima  tujuan menggunakan variasi mengajar.

 

  1. Menarik perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran yang tengah dibicarakan.
  2. Menjaga kelestarian proses pembelajaran baik secara fisik meupun metal.
  3. Membangkitkan motivasi belajar selama proses pembelajaran.
  4. Mengatasi situasi dan mengurangi kejenuhan dalam proses pembelajaran.
  5. Memberikan kemungkinan layanan pembelajaran individual.

 

  1. Prinsip-prinsip penggunaan variasi.

Penggunaan keterampilan menggunakan variasi, mengajar seyogyanya memenuhi prinsif-prinsif :

a.      Relevan dengan tujuan pembelajaran bahwa variasi mengjar digunakan untuk menunjang tercapainya kompetensi dasar

b.      Kontinyu dan fleksibel artinya variasi digunakan secara terus menerus selama KBM sesuai kondisi.

 

c.      Antusiasme dan hangat yang ditunjukkan oleh guru KBM berlangsung.

d.      Relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik (LP31, 2010: 132)

 

  1. Komponen-komponen ketermpilan mengadakan variasi dalam Suwarno, Dkk (2005: 85). Komponen-komponen keteramnpilan dasar mengajar mengadakan variasi meliputi :

a.      Variasi dalam gaya mengajar

  1. Menggunakan Variasi Suara

Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah dan cepat menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.

 

  1. Pemusatan perhatian siswa

Guru dapat memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting, dapat dengan gaya bahasa menurut kebutuhan anak.

 

  1. Kesenyapan Guru

Adanya kesenyapan, kebisuan, atau “selingan diam” yang tiba-tiba dan  disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik  perhatian siswa.

 

  1. Mengadakan kontak pandang dan gerak.

Apabila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat kemata murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang akrab dengan mereka.

 

  1. Gerak badan dan mimik

Variasi dari expresi wajah guru. Gerakan kepala dan gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dan pesan lisan yang di maksudkan.

 

  1. Pergantian posisi guru dalam kelas

Pergantian posisi guru dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa, terutama sekali dalam menyampaikan pelajaran dalam kelas, gerakan hendaknya bebas. Tidak kaku dan hindarkan tingkah laku negatif (E. Mulyosa, 2004 : Hasi Buan, dkk, 1994 : Raplis, 1985).

 

b.      Variasi Dalam Menggunakan Media Pembelajaran

  1. Variasi media yang dapat dilihat.

Media yang termasuk ke dalam jenis ini ialah gerafik, bagan, poster, gambar. Film, dan slide.

 

  1. Variasi media yang dapat di dengar.

Media yang termasuk ke dalam jenis ini adalah rekaman suara, suara radio, musik, dll.

 

  1. Variasi media yang dapat diraba, dimanipulasi dan digerakkan. Yang termasuk ke dalam jenis ini ialah peragaannya dilakukan oleh guru atau siswa, patung, topeng, dan lain-lain.

 

  1. Variasi media yang dapat di dengar, dilihat dan dapat diraaba.

Media yang temasuk ke dalam jenis ini adalah film tv, cd, proyektor, yang diiringi oleh penjelasan guru.

 

 

c.      Variasi Pola Interaksi dan Kegiatan Siswa

Penggunan variasi pola interaksi ini dimaksudkan untuk meningkatkan interaksi guru-siswa dan siswa-siswa agar kegiatan pembelajaran tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, suasana kelas pun menjadi hidup.

 

  1. Penggunaan  di Kelas

Sebagai rambu-rambu penerapan keterampilan mengadakan variasi tidak semata-mata indiviual dan berganti-ganti. Maksudnya dalam suatu keterampilan mengajar guru dapat memadukan secara serempak beberapa keterampilan sekaligus. Namun, hal itu perlu dilandasi oleh prinsif-prinsif penggunaan secara profesional. Sebagai gambaran dalam suatu penampilan guru dapat memadukan penggunaan mimik gestural dan perubahan posisi sekaligus bakan dapat dipandukan dengan aspek variasi lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lembar Observasi

 

PANDUAN OBSERVASI

KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

Nama Praktikan          :

Mata Pelajaran            :

Kelas/ Semester           :

Kompetensi Dasar       :

Tanggal waktu                        :

 

Komponen-komponen Keteramponen

Nilai

Komentar

Variasi dalam gaya mengajar  guru

  1. Suara

Guru memberikan variasi dalam nada suara, volume suara, kecepatan suara.

  1. Mimik dan Gerak

Guru mengadakan perubahan mimik dan gerak (tangan dan badan)

 

  1. Kesenyapan

Guru dengan sengaja memberikan waktu senyap atau hening dalam pembicaraan.

 

  1. Kontak Padang

Guru melayangkan padang dan melakukan kontak pandang dengan siswa .

  1. Perubahan Posisi

Guru bergerak dalam kelas untuk maksud berbeda-beda.

 

  1. Memusatkan

Guru memberikan tekanan pada butir-butir yang penting dari penyajiannya dengan menggunakan bahasa lisan (seperti dengan baik-baik’, perhatikan ini’, dan lain-lain). Dan isyarat yang cocok (seperti mengangkat tangan atau menunjukkan dengan jari).

 

Variasi menggunakan media dan alat bantu pengajaran

  1. Variasi Visual

Guru menggunakan alat bantu yang dapat dilihat (menulis di papan tulis, menujukkan gambar atau benda, dan sebagainya)

 

  1. Variasi Aural

Guru menggunakan berbagai suara langsung atau rekaman dalam pengajarannya.

 

 

 

 

 

  1. Variasi alat bantu yang dapat dipegang dan dimanipulasi.

Guru memberikan atau memanipulasi benda-benda atau alat bantu pengajaran.

Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.

 

  1. Guru memperkenalkan perubahan dalam pola interaksi antar dia dengan siswa dan juga menganekaragamkan kegiatan belajar siswa yang terlibat.
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.    PENUTUP

 

Kegiatan mengajar yang dilakukan oleh seorang guru merupakan kegiatan yang kompleks. Karena kekomplekannya itulah sebagai seorang calon guru harus mampu menguasai keterampilan-keterampilan dasar mengajar. Termasuk di dalamnya keterampilan mengadakan variasi merupakan. suatu keterampilan mengajar yang harus dikuasai guru dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan siswa dan kejenuhan  siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru serta untuk mengacu dan mengingat perhatian siswa sehingga siswa dapat aktif dan terpartisipasi dalam belajarnya.

 

Tujuan inti dari pengadaan variasi dalam pembelajaran ialah mengurangi kejenuhan selama proses pemebelajaran, sehingga dapat menjaga kesetabilan proses pembelajaran baik secara fisik maupun mental.

 

Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pembelajaran antara lain

  1. Relevan dengan tujuan pembelajaran
  2. kontinyu dan fleksibel
  3. Antusiasme dan hangat
  4. relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik.

 

Komponen keterampilan variasi mengajar, meliputi :

  1. Variasi gaya mengajar
  2. variasi media pembelajaran
  3. Variasi interaksi pemebelajaran

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asril, Zainal.2010. Micro teaching. Jakarta : PT R aja Grafindo

Persada.

 

Darmadi, Hamid.2010. Kemampuan Dasar Pengajar. Bandung : Alfabeta

 

Marno dan Idris.2008.Strategi dan Model Pengajaran. Yogyakarta :

AR-Ruzz Media.

 

Soetomo.1993. Dasar Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya : Usaha

Nasional.

 

Suwarna, dkk.2005. Pengajaran Mikro, Pendekatan Praktis Dalam Penyiapkan

            Pendidik Profesional. Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

Tim LP31.2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Malang : Fakultas Tarbiah.

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

 

 

 

 

 

 

 

 

KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS DAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK KECIL

PEMBAHASAN

 

A. PENDAHULUAN

Sebagai calon seorang guru,hendaknya mahasiswa perlu menyiapkan mental yang kuat sebelum praktik pembelajaran disekolah.Persiapan mental berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar mengajar  baik persiapan, pelaksanaan, evaluasi, maupun tindak lanjut kegiatan belajar mengajar.

Agar calon guru memperoleh kesiapan mental yang memadai serta membentuk pribadi calon guru yang semakin baik, maka perlu dilaksanakan pengajaran mikro secara kontinyu.Oleh karena itu pengajaran mikro harus dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai keadaan kelas yang sesungguhnya.Tanpa dan proses pelatihan yang secara terus menerus tidak akan memperoleh kesiapan mental yang memadai.Karena tanpa kesiapan mental mahasiswa akan menemui kesulitan ketika praktik pembelajaran didepan kelas yang sesunggguhnya.

Didalam pengajaran mikro terdapat beberapa ketrampilan dasar mengajar yang akan membuat calon guru mempunyai persiapan mengajar yang efektif.Dimana seorang calon guru harus dapat mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, dapat mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosioemosional yang positif, serta dsn mempertahankan organisasi kelas yang efektif.Tujuan mengelola kelas itu sendiri adalah agar semua siswa yang ada didalam kelas dapat belajar dengan optimal dan mengatur sarana pembelajaran serta mengendalikan suasana belajar yang menyenangkan untuk mencapai tujuan belajar.

B. MATERI

1. Keterampilan Mengelola Kelas

a. Pengertian Pengelolaan Kelas

Menurut Mulyasa dalam Suwarna (2006:82)”pengelolaan kelas adalah keterampilan guru mencipta kan dan memelihara kondisi belajar yang optimal apabila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.”

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Usman (2005:97)”pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi  belajar yang optimal dan mengembalikanya bila terjadi gangguan dalam  proses belajar.

Pendapat lain dikemukakan oleh Darmadi (2010:6) bahwa pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan,mengulang atau meniadakan  tingkah laku yang tidak diinginkan,dengan hubungan-hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangakan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelasadalah seperangkat  kegiatan yang diciptakan oleh seorang guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang positif,mengembangkan hubungan interpersonal,iklim sosio emosionalserta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif sehingga kondisi belajar terpelihara dengan baik.

b. Tujuan Keterampilan Mengelola Kelas

menurut Darmadi (2010:6)tujuan mengelola kelas adalah untuk membuat siswa yang ada didalam kelas dapat belajar dengan optimal dan mengatur sarana pembelajaran serta mengendalokan suasana belajar yang menyenangkan untuk mencapai tujuan belajar.

c. Komponen-komponen Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut Suwarna (2006:83) ada 2 komponen keterampilan mengelola kelas yaitu:

keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal(bersifat preventif).Keterampilan ini berkaitan dengankemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran sehingga berjalan secara optimal, efisien dan efektif.Keterampilan tersebut meliputi:

a) menunjukan sikap tanggap

b) memberi perhatian

c) memusatkan perhatian kelompok

d) memberikan petunjuk yang jelas

e) menegur siswa yang bertingkah laku mengganggu dikelas dengan

bijaksana

f) memberi penguatan

2. Keterampilan yang berhubungan denganpengembalian kondisi belajar yang optimal.Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan (Mulyasa dalam Suwarana 2006:84)

d. Prinsip-prinsip Penggunaan Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut Hasibuan dalam  Suwarna (2006:84) ada beberapa prinsip-prinsip penggunaan keterampilan mengelola kelas yaitu:

1)      Modifikasi tingakah laku

Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah,dan memodifikasi tungkah laku tersebut mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis

2)      Guru dapat mengguanakan pendekatan pemecahan masalah kelompok

dengan cara memperlancar tugas-tugas,memelihara kegiatan kelompok,memelihara semangat siswa dan menangani konflik yang timbul

3)      Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku yang keliru yang muncul dan mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut,serta berusaha menemukan pemecahannya

e. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas

Menurut Darmadi(2010:6-7) ada beberapa peran guru dalam pengelollaan kelas yaitu

1)      Peranan guru dalam pengelolaan kelas adalah

a)    Memelihara lingkungan fisik kelas

b)   Mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social siswa dalam kelas

c)    Mampu memimpin kegiatan pembelajaran yang efektif dan efesien

2)      Dalam mengelola kelas sering ditemui kendala –kendala  yang  dapat menghambat  terjadinya proses pembelajaran yang efesien dan efektif

3)      Untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif  selain menerapkan prinsip-prinsip pengelola juga kiat-kiat untk mengatasi kendala tersebut yaitu:

a)         Guru tidak boleh campur tangan yang berlebihan terhadap siswa

b)         Guru jangan sampai kehilangan konsentrasi yang dapat

menimbulkan kesenyapan  atau pembicaraan terhenti tiba-tiba

c)         Hindari ketidaktepatan menandai dan mengakhiri  suatu kegiatan

atau guru harus tepat waktu

d)        Guru harus dapat mengelola waktu, baru hal ini dapat

menimbulkan penyimpangan yang berkaitan dengan disiplin diri

siswa.

e)         Berilah penjelasan yang jelas, sederhana, sistematis dan tidak

bertele-tele.

2. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil.

  1. Pengertian diskusi kelompok

Menurut Mulyasa dalam Suwarna (2006:79) “diskusi kelompok adalah suatu proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi/pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Usman (2005:94) “diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan  sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman dan informasi, pengambilan kesimpulan/pemecahan masalah.

Dari kedua pendapat dapat disimpulka bahwa diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur, yang melibatkan  sekelompok orang dalam interaksi tatap muka secara informal untuk berbagi informasi dan pengalaman serta mengambil kesimpula / pemecahan masalah.

Tujuan membimbing diskusi kelompok kecil menurut Mulyasa dalam

Suwarna (2006:80)”keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil bertujua sebagai berikut:

1)      Siswa dapat saling member informasi atau pengalaman dalam menjelajahi gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan oleh mereka.

2)      Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan komunikasi.

3)      Siswa terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

Komponen keterampilan membimbing diskusi

Usman (2005:94-95) mengemukakan ada beberapa komponen keterampilan membimbing diskusi yaitu sebagai berikut:

1)     Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi

Cara-cara yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Rumuskan tujuan dan topic yang akan dibahas pada awal diskusi
  2. Kemukakan masalah-m asalah khusus
  3. Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan
  4. Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi

2)   Memperluas masalah atau urunan pendapat

Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas, sehingga terjadi kesalahpahaman antar anggota kelompok. Dalam hal ini tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelaskannya, yakni dengan cara:

  1. Menguraikan kembali urunan tersebut hingga jelas
  2. Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut
  3. Menguraikan gagasan siswa dengan member informasi tambahan.

3)   Menganalisis pandangan siswa

Didalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat. Dalam hal ini guru hendaklah menganalisis alas an perbedaan tersebut yaitundengan cara sebagai berikut:

  1. Meneliti apakah alas an tersebut memang memounyai dasar yang kuat.
  2. Memperjelas hal-hal yang disepakati dan tidak disepakati.

4)   Meningkatkan urunan siswa

Beberapa cara untuk meningkatkan urunan piker siswa adalah:

  1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menentang siswa untuk berpikir.
  2. Memberikan contoh-contoh verbal dan nonverbal yang sesuai dan tepat.
  3. Memberikan waktu untuk berpikir.
  4. Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.

5)   Menyebarkan kesempatan berpartisipasi

Penyebaran kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi
  2. Menegah terjadinya pembicaraan serentak dengan member giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu
  3. Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan
  4. Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan

6)   Menutup Diskusi

Hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam menutup diskusi adalah sebagai berikut:

  1. Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa
  2. Member gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi atau tentang topic diskusi yang akan dating
  3. Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai

7)   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membimbing diskusi

  1. Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan
  2. Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi
  3. Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan
  4. Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi
  5. Tidak memperjelas atau mendukung urunan piker siswa
  6. Gagal mengakhiri diskusi secara efektif

d. Prinsip penggunaan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Hasibuan dalam Suwarna (2006:81-82) mengemukakan ada dua prinsip

yang digunakan  dalam membimbing diskusi kelompok kecil yaitu sebagai

berikut:

> Diskusi hendaknya berlangsung dalam “iklim terbuka”

Hal ini ditandai dengan adanya keantusiasan berpartisipasi, kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topic diskusi dan kesediaan menghargai pendapat orang lain.

Dengan demikian semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk dikenal dan dihargai dapat merasa merasa aman dan bebas mengemukakan pendapat.

> Perlu perencanaan dan persiapan yang matang

Perencanaan dan persiapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Topic yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan siswa
  2. Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban tunggal
  3. Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topic tersebut agar para siswa memiliki latar belakang pebgetahuan yang sama
  4. Guru harus benar-benar siap dengan sumber informasi sebagai motivator sehingga mampu memberikan penjelasan dan mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa.

3. lembar observasi

a. lembar observasi ketrampilan diskusi kelompok kecil

Nama calon                 :                                   Hari/Tanggal   :

Bidang Studi               :                                   Sekolah           :

Pokok Bahasan           :                                   Kelas               :

No

Komponen Keterampilan

Komentar

1.

Memusatkan Perhatian

  • Merumuskan tujuan
  • Merumuskan masalah
  • Membuat rangkuman

2.

Memperjelas masalah dan urunan pendapat

  • Menggali
  • Merangkum
  • Mengurai secara rinci

3.

Menganalisis Pandangan Siswa

  • Menandai Persetujuan
  • Meneliti Alasannya

4.

Meningkatkan Urusan Siswa

  • Menimbulkan Pertanyaan
  • Menggunakan Contoh
  • Menunggu
  • Memberi Dukungan

5.

Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi

  • Meneliti Pandangan
  • Menghentikan Monopoli

6.

Menutup Diskusi

  • Merangkum
  • Menilai

Pengamat

( Asril, 2010 : 149)

b. Keterampilan Mengelola Kelas Komponen Prakarsa Guru

Nama Calon/Guru :                                                              Hari/Tanggal      :

Bidang Studi         :                                                              Sekolah              :

Pokok Bahasan     :                                                              Kelas                  :

No

Komponen Keterampilan

Penggunaan

Komentar

1.

Bersikap Tanggap

  • Memandang Secara Seksama
  • Gerakan Mendekati
  • Teguran

2.

Membagi Perhatian

  • Secara Visual
  • Secara Verbal
  • Visual-Verbal

3.

Memusatkan Perhatian Kelompok

  • Menyiapkan
  • Mengarahkan Perhatian
  • Menyusun Komentar

4.

Menurut Tanggung Jawab Siswa

  • Menyuruh Siswa Lain
  • Mengawasi Rekannya
  • Menyruh Siswa Menunjukkan Pekerjaannya

5.

Petunjuk Yang Jelas

  • Kepada Seluruh Kelas
  • Kepada Individu

Pengamat

( Asril, 2010 : 149)

PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang calon guru itu harus mempunyai kesiapan mental yang kuat sebelum terjun ke lapangan atau sebelum praktek pembelajaran di sekolah. Karena tanpa kesiapan mental seorang calon guru akan mengalami kesulitan ketika praktek mengajar di kelas. Oleh karena itu, calon guru ini harus diberi pelatihan secara berkelanjutan yaitu dengan cara pengajaran mikro. Di dalam pengajaran mikro ini calon guru di bombing agar memahami tata cara mengajar, sehingga calon guru ini mempunyai kesiapan mental yang memadai.

Jadi, ketika pelaksanaan praktek mengajar berlangsung, calon guru tersebut tidak akan mengalami kesulitan dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan dengan lancar.

Selain itu, di dalam pengajaran mikro terdapat ketrampilan dasar mengajar yaitu bagaimana cara mengelola kelas dan membimbing sebuah diskusi. Karena dengan mengetahui cara mengelola kelas dan membimbing sebuah diskusi dengan baik. Maka proses belajar mengajar akan berlangsung secara efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Asril,Zainal.2010.Micro Teaching.Jakarta:PT Raja Grafindo

Darmadi,Hamid.2010.Kemampuan  Dasar Mengajar.Bandung:Alfabeta

S uwarna.2006.Pengajaran Mikro.Yogyakarta:Tiara Wacana

Usman,Uzer.2005.Menjadi Guru Profesional.Bandung:PT Remaja Rosdakarya

KETERAMPILAN MENGELOLAH KELAS: semangat unutk belajar

 

1. Pengertian Pengelolaan Kelas

Menurut Mulyasa dalam Suwarna (2006:82)”pengelolaan kelas adalah keterampilan guru mencipta kan dan memelihara kondisi belajar yang optimal apabila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.”

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Usman (2005:97)”pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi  belajar yang optimal dan mengembalikanya bila terjadi gangguan dalam  proses belajar.

Pendapat lain dikemukakan oleh Darmadi (2010:6) bahwa pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan,mengulang atau meniadakan  tingkah laku yang tidak diinginkan,dengan hubungan-hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangakan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelasadalah seperangkat  kegiatan yang diciptakan oleh seorang guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang positif,mengembangkan hubungan interpersonal,iklim sosio emosionalserta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif sehingga kondisi belajar terpelihara dengan baik.

2. Tujuan Keterampilan Mengelola Kelas

menurut Darmadi (2010:6)tujuan mengelola kelas adalah untuk membuat siswa yang ada didalam kelas dapat belajar dengan optimal dan mengatur sarana pembelajaran serta mengendalokan suasana belajar yang menyenangkan untuk mencapai tujuan belajar.

3. Komponen-komponen Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut Suwarna (2006:83) ada 2 komponen keterampilan mengelola kelas yaitu:

  • keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi     belajar yang optimal(bersifat preventif).Keterampilan ini berkaitan  dengankemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan   kegiatan pembelajaran sehingga berjalan secara optimal, efisien dan efektif.Keterampilan tersebut meliputi:

a) menunjukan sikap tanggap

b) memberi perhatian

c) memusatkan perhatian kelompok

d) memberikan petunjuk yang jelas

e) menegur siswa yang bertingkah laku mengganggu dikelas dengan

    bijaksana

f) memberi penguatan

  • Keterampilan yang berhubungan denganpengembalian kondisi belajar yang optimal.Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan (Mulyasa dalam Suwarana 2006:84)

4. Prinsip-prinsip Penggunaan Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut Hasibuan dalam  Suwarna (2006:84) ada beberapa prinsip-prinsip penggunaan keterampilan mengelola kelas yaitu:

1) Modifikasi tingakah laku

Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah,dan memodifikasi tungkah laku tersebut mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis

2) Guru dapat mengguanakan pendekatan pemecahan masalah kelompok

dengan cara memperlancar tugas-tugas,memelihara kegiatan kelompok,memelihara semangat siswa dan menangani konflik yang timbul

3) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku yang keliru yang muncul dan mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut,serta berusaha menemukan pemecahannya

5. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas

Menurut Darmadi(2010:6-7) ada beberapa peran guru dalam pengelollaan kelas yaitu

1) Peranan guru dalam pengelolaan kelas adalah

a)   Memelihara lingkungan fisik kelas

b)   Mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social siswa dalam              kelas

c)   Mampu memimpin kegiatan pembelajaran yang efektif dan efesien

2)  Dalam mengelola kelas sering ditemui kendala –kendala  yang  dapat menghambat  terjadinya proses pembelajaran yang efesien dan efektif

3)  Untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif  selain menerapkan prinsip-prinsip pengelola juga kiat-kiat untk mengatasi kendala tersebut yaitu:

a)  Guru tidak boleh campur tangan yang berlebihan terhadap siswa

b) Guru jangan sampai kehilangan konsentrasi yang dapat menimbulkan                         kesenyapan  atau pembicaraan terhenti tiba-tiba

c)  Hindari ketidaktepatan menandai dan mengakhiri  suatu kegiatan atau guru             harus tepat waktu

d) Guru harus dapat mengelola waktu, baru hal ini dapat menimbulkan                             penyimpangan yang berkaitan dengan disiplin diri siswa.

e)  Berilah penjelasan yang jelas, sederhana, sistematis dan tidak bertele-tele.

 

2. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil.

a. Pengertian diskusi kelompok

Menurut Mulyasa dalam Suwarna (2006:79) “diskusi kelompok adalah suatu proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi/pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Usman (2005:94) “diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan  sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman dan informasi, pengambilan kesimpulan/pemecahan masalah.

Dari kedua pendapat dapat disimpulka bahwa diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur, yang melibatkan  sekelompok orang dalam interaksi tatap muka secara informal untuk berbagi informasi dan pengalaman serta mengambil kesimpula / pemecahan masalah.

a) Tujuan membimbing diskusi kelompok kecil menurut Mulyasa dalam Suwarna      (2006:80)”keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil bertujuzn                   sebagai berikut:

1)  Siswa dapat saling member informasi atau pengalaman dalam menjelajahi               gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan oleh mereka.

2) Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk                               berpikir dan komunikasi.

3) Siswa terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

b. Komponen keterampilan membimbing diskusi

Usman (2005:94-95) mengemukakan ada beberapa komponen keterampilan membimbing diskusi yaitu sebagai berikut:

1)   Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi cara-cara                yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

  • Rumuskan tujuan dan topic yang akan dibahas pada awal diskusi
  • Kemukakan masalah-m asalah khusus
  • Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan
  • Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi

2)   Memperluas masalah atau urunan pendapat

       Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas, sehingga terjadi kesalahpahaman antar anggota kelompok. Dalam hal ini tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelaskannya, yakni dengan cara:

  • Menguraikan kembali urunan tersebut hingga jelas
  • Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut
  • Menguraikan gagasan siswa dengan member informasi tambahan.

3)   Menganalisis pandangan siswa

       Didalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat. Dalam hal ini guru hendaklah menganalisis alas an perbedaan tersebut yaitundengan cara sebagai berikut:

  • Meneliti apakah alas an tersebut memang memounyai dasar yang kuat.
  • Memperjelas hal-hal yang disepakati dan tidak disepakati.

4)   Meningkatkan urunan siswa

       Beberapa cara untuk meningkatkan urunan piker siswa adalah:

  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menentang siswa untuk berpikir.
  • Memberikan contoh-contoh verbal dan nonverbal yang sesuai dan tepat.
  • Memberikan waktu untuk berpikir.
  • Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.

5)   Menyebarkan kesempatan berpartisipasi

       Penyebaran kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara:

  • Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi
  • Menegah terjadinya pembicaraan serentak dengan member giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu
  • Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan
  • Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan

6)   Menutup Diskusi

       Hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam menutup diskusi adalah sebagai berikut:

  • Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa
  • Member gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi atau tentang topic diskusi yang akan dating
  • Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai

7)   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membimbing diskusi

  • Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan
  • Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi
  • Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan
  • Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi
  • Tidak memperjelas atau mendukung urunan piker siswa
  • Gagal mengakhiri diskusi secara efektif

d. Prinsip penggunaan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Hasibuan dalam Suwarna (2006:81-82) mengemukakan ada dua prinsip

yang digunakan  dalam membimbing diskusi kelompok kecil yaitu sebagai

berikut

1) Diskusi hendaknya berlangsung dalam “iklim terbuka”

Hal ini ditandai dengan adanya keantusiasan berpartisipasi, kehangatan                    hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topic          diskusi dan kesediaan menghargai pendapat orang lain.

Dengan demikian semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk                  dikenal dan dihargai dapat merasa merasa aman dan bebas mengemukakan            pendapat.

2) Perlu perencanaan dan persiapan yang matang

Perencanaan dan persiapan tersebut adalah sebagai berikut:

Topic yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan siswa

  • Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban tunggal
  • Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topic tersebut agar para siswa memiliki latar belakang pebgetahuan yang sama
  • Guru harus benar-benar siap dengan sumber informasi sebagai motivator sehingga mampu memberikan penjelasan dan mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa.

    DAFTAR PUSTAKA

    Asril,Zainal.2010.Micro Teaching.Jakarta:PT Raja Grafindo

    Darmadi,Hamid.2010.Kemampuan  Dasar Mengajar.Bandung:Alfabeta

    S uwarna.2006.Pengajaran Mikro.Yogyakarta:Tiara Wacana

    Usman,Uzer.2005.Menjadi Guru Profesional.Bandung:PT Remaja                            Rosdakarya

KETERAMPILAM PENGUTAN: semangat untuk belajar

1. Pengertian Penguatan

Pada umumnya penghargaan memberi pengaruh positif terhadap kehidupan manusia, karena dapat mendorong dan memperbaiki tingkah laku seseorang serta meningkatkan usahanya. Untuk kegiatan proses pembelajaran, penghargaan mempunyai arti tersendiri. Semua penghargaan ini tidak berwujud materi, melainkan dalam bentuk kata-kata, senyuman, anggukan, dan sentuhan. Pada dasarnya anatara keterampilan memberi penguatan memiki fungsi yang penting dalam proses pembelajaran.

Pada  dasarnya hakikat penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya perilaku itu. Asril (2010: 77-78) menyatakan bahwa  “penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku positif yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”. Sedangkan, Usman (2005: 80) mengemukakan bahwa “penguatan adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi.”

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.