Pengerti Folklor: semangat unutk belajar

Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun temurunkan secara lisan (dari muluy ke mulut).Pada dasarnya sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa inggris oral literature. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa belanda orale letterkuade. Kedua pendapat mengenai istilah sastra lisan di atas dapat dibenarkan. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah istilah itu dalam dirinya sendiri mengandung kontradiksi. Oleh sebab itu, kita harus dapat mengerti dan memahami apa pengertian sastra lisan dan pembagian – pembagiannya maupun asal usulnya. Maka dengan pembahasan mengenai sastra lisan ini, diharapkan penulis maupun pembaca dapat memahami sastra lisan. Baik penggolongan ciri dan perkembangannya dalam kehidupan masyarakat baik masyarakat trdisional maupun masyarakat modern.

A. Sastra Lisan

Istilah sastra lisan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris oral literaturs. Ada juga yang menyatakan bahwa istilah itu berasal dari bahasa Belanda orale letterkunde. Kedua pendapat itu dapat dibenarkan, tetapi yang menjadi soal adalah bahwa istilah itu dalam diirinya sendiri sebenarnya mengandung kontrakdiksi (pinnegan, 1977: 167), sebab kata literature (sastra) itu merujuk pada kata literae, yang bermakna letters.

Dalam karangannya yang berjudul What is Literature, hal itu juga dikemukakan oleh Rene Wellez sarjana besar ini mengatakan istilah literature. Menurut Rene Wellek, istilah literature itu sebenarnya tidak menguntungkan sebab di dalamnya tidak mencakup apa yang dinamakan sastra lisan.

Begitulah masalah yang ada antara istilah ‘sastra lisan’ dengan tulisan atau cetakan. Hal ini kiranya tidak dipersoalkan orang. Konsep istilah ini kini bermakna sebagai berikut:

Yang dinamakan sastra lisan atau kesusastraan lisan adalah kesusatraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun menurunkan secar lisan (dari mulut kemulut).

Di Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat  masih banyak yang buta huruf (umumnya para petani pendesaan). Dengan begitu, apa  yang dinamakan dalam masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di istana-istana , pusat-pusat agama,  dan lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak dijumpai di kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.

B. Folklore

Sastra lisan sering dikaitkan orang dengan apa yang dinamakan folklore.  Istilah folklore pada mulanya adalah ciptaan Jhon Thoms kira kira pertengahan abad ke-19). Istilah ini digunakan untuk mengganti istilah popular antiouities. Menurut Jhon Thoms istilah yang terakhir tidak tepat untuk merujuk pada fenomena-fenomena yang hidup dan yang masih mendapt tempat dalam kehidupan sekelompok penduduk di luar kota di negeri Inggris pada waktu itu. Di Indonesia apa yang dinamakan dengan folklore itu merupakan ilmu yang masih baru. Dalam hubungan ini orang tak banyak tahu kat folklore itu berasal dari dua perkataan Inggris, yaitu Folk dan Lore.

Menurut seorang ahli folklore Amerika, yaitu Alan Dundes, yang dimaksud dengan folk itu adalah kelompok orang – orang yang mempunyai cirri-ciri pengenal kebudayaan yang ciri-cirinya tadi dapat membedakannya dari kelompok lain. Sedangkan yang dimaksud dengan lore adalah tradisi dari folk. Ia diwariskan turun- temurun melalui cara lisan atau melalui contoh yang disertai dengan perbuatan.

Folklore itu mempunyai ciri-ciri khusus. Menurut Jan Harold Brunvand dalam bukunya The Study of American Folklore (1968), halaman 4, folklore mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1)      It is oral;

2)      It is traditional;

3)      It exists in different versions;

4)      It is usually anonymous;

5)      It tonds to become formularized.

Jadi, folklore itu disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi , yang kadang-kadang  penuturannya itu  disertai dengan perbuatan ( misalnya, mengajar tari, mengajar membatik, mengajar mendalang).

Konsep folklor itu sebenarnya mencakup beberapa hal, yaitu :

  1. Sastra lisan
  2. sastra tertulis penduduk daerah pedesaan dan masyarakat kota kecil.
  3. Ekspresi budaya, mencakup :
    • Teknologi budaya.
    • Pengetahuan rakyat
    • Kesenian dan rekreasi ( arsitektur tradisional,kerajinan rakyat,seni pandai gamelan, pengobatan tradisional, ilmu firasat, numerologi atau ilmu petungan, seni ukir, tari-tarian, dan permainan).

Khusus untuk bangsa-bangsa Afrika dan Asia kesenian, kesusastraan dan ekspresi intelektual estetik lain yang bersifat  ‘ agama besar formal ‘, agama, metropolitan, semua tidak dimasukkan ke dalam konsep folklor.

Hal – hal tersebut oleh Jan Harold Brunvand dibuat lebih terperinci lagi. Oleh beliau bahan– bahan folklor itu dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

  1. Verbal folklor ( folklor lisan )
  2. Partly verbal folklor ( folklor setengah lisan )
  3. Non verbal folklor ( folklor bukan lisan ).

Dalam hubungan dengan folklor lisan, maka bahan – bahan itu mencakup :

  1. Ungkapan tradisional ( peribahasa, pepatah ).
  2. Nyanyian rakyat.

c. Bahasa rakyat ( dialek, julukan,sindiran, wadanan, bahasa rahasia,dan lain –            lain.

d. Teka teki, dan

e. Cerita rakyat ( dongeng, dongeng suci ( mite ) legenda dan lain – lain ).

Yang termasuk folklor setengah lisan adalah bahan – bahan folklor yang berupa :

a. Drama rakyat ( ketoprak, ludruk, lenong, wayang dan lain – lain ).

b. Tari ( serimpi, kuda lumping, dan lain – lain ).

c. Kepercayaan dan takhyul.

d. Upacara – upacara ( ulang tahun, perkawinan, kematian, sunatan dan lain –            lain )

e. Permainan rakyat dan hiburan rakyat ( macanan, gobak sodor  dan lain – lain ).

f. Adat kebiasaan ( gotong royong, batas umur pengkhitanan anak dan lain –               lain).

g. Pesta rakyat ( wetonan, sekaten dan lain – lain ).

Folklor bukan lisan di bagi menjadi dua yaitu yang berupa materil dan bukan materil. Yang termasuk materil adalah : mainan ( boneka ), makanan dan minuman, peralata n dan senjata, pakaian dan perhiasan dan lain – lain.

Sedangkan yang termasuk dalam bukan materil adalah : musik, ( gamelan sunda, jawa, bali ) dan bahasa isyarat mengangguk berarti setuju dan lain – lain.

C. Tradisi Lisan

Istilah tradisi lisan ini merupakan terjemahan dari bahasa dari Inggris oral tradition. Adapun istilah ini hanpir sama pengertiaanya dengan konsep folklore, bedanya hanya terletak pada unsur-unsur yang di transmisi secara lisan, yang kadang-kadang diikuti dengan tindakan.

Menurut keputusan atau rumusan UNESCO, yang dinamakan tradisi lisan itu adalah : those traditions wgich have been transmitted in time and space by the word and act, yang kira kira artinya : tradisi yang ditransmisi dalam waktu ydan ruang dengan ujaran dan tindakan. (Anvisory Committee, 1981). Dengan begitu tradisi lisan, itu mencakup beberapa hal. Yaitu:

1) Yang berupa kesusastraan lisan

2) Yang berupa teknologi tradisional

3)  Yang berupa pengetahuan folk di luar pusat pusat istana  dan kota                               metropolitan

4) Yang berupa unsur unsur religi dan kepercayaan folk di luar batas formal                 agama   agama besar

5) Yang berupa kesenian folk di luar pusat pusat istana dan kota metripolitan,

6) Yang berupa hukum adat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: